Assalamu’alaikum, sugeng injing, sugeng dhalu, good
morning, good evening good night
Hai, ini blog pertama aku (yang berhasil sebab 3 blog
sebelumnya hanya menjadi spam email yang mangkrak memprihatinkan tak pernah
tersentuh). So, aku bakal ngasih coretan (ga penting) sebagai perkenalan. Tak
kenal maka tak sayang too.. :D
Namaku Fifin (inget pake “F” tegak, bukan “V” rumput
apalagi “pe”). Nama lengkapnya Fifin Lujjatil Bahril Wahdati. Pendeknya Fifin
L.B.W. Panjangnya Fifin Lujjatil Bahril Wahdati kecil mungil centil
#abaikan -_-“#
Saat ini aku lagi memasuki semester kelimaku di
fakultas hukum bersama ke empat teman-temanku yang (menurutku) aneh tapi ajaib.
Aku, eh mereka menemukanku dalam keluguan (jjiah) saat pertama kali datang dan
menginjakkan kaki di Fakultas Hukum. Aku yang phobia dengan suasana asing ga
bisa berbaur (inilah yang membuatku lebih nyaman di “dunia kecilku”), terlebih
dandananku yang (katanya) berantakan dan cupu.
Sherly yang pertama kali menyambutku dengan kelakar
konyolnya yang ceplas-ceplos dan rada susah untuk dimengerti oleh orang awam.
Dia yang paling suka bikin ricuh diantara kami. Bisa dibilang, sherly adalah
informan handal, sebab, pergaulannya yang supel dan luas membuatnya mendapatkan
informasi dari segala penjuru tentang dunia kampus. Dari masalah kuliah sampe
para mahasiswanya, dia yang teraktual, tajam terpercaya dan ter-update.
Terus, ada Icha. Lengkapnya Desy Nurcahyani. Nama
narsisnya Ichantiik (gabungan Icha dan cantik #abaikan -_-“). Pertama kali
ketemu, aku ketipu sama wajahnya yang imut. Ternyata dia mahasiswi frustasi
dari keperawatan dan memilih mengulang di kampusku. Dia yang punya mata
yang hitam dan tajam. Juga senyum narsis yang selalu dia bawa kemana-mana.
Body’nya boleh jadi bulat seksi berisi (bukan masuk jajaran gendut dan
sejenisnya #dipelototin Icha) dan paling cepet ngos-ngosan kalo naik tangga,
tapi kalo masalah main game Dance DDR (entahlah apa kepanjanganya) di jagonya.
Nyaris sempurna (nilainya bukan style dancenya #wkakaka). Sekilas dia seperti cewek pemalu,
pendiam dan ga aktif dikegiatan perkuliahan. Tapi ternyata, air tenang
menganyutkan, daya tangkapnya kuat, terbukti nilai IP semester satu dan dua
yang tersapu bersih dari nilai C, D apalagi E. Terlebih mimiknya yang selalu
innocent selalu berhasil menipu kami mentah setengah mateng.
Ada juga si jangkung firda yang suka heboh, gak jelas
sendiri. Loadingnya super lambat menangkap apa yang sedang kami berempat
jadikan bahan candaan. Setelah kami puas tertawa, dia akan memasang wajah
datar, terdiam, dan sejenak kemudian terbahak keras ,” oo,, baru ngerti aku,,
hahahaha.” Ibarat sinyal, dia sinyalnya cuma satu setengah. Ditambah lagi dia
buta nada. Dia cocok jadi pembawa acara tebak lagu dan sejenisnya, asli ga akan
ada yang mampu menebak lagu yang dia nyanyikan saking ga ada nadanya.
2 makhluk ini (Icha dan Firda) adalah K-Pop Lovers
berat. Segala sesuatu yang berbau Korea mereka update banget. Tapi tetep,
peringkat kehebohan tetap dipegang oleh Firda. Asli deh, dia itu ga tau sikon
banget. Suka jejeritan kalo liat idolanya muncul atau beradegan yang
(menurutnya) seksi, imut dan menggoda (urat malu putus!) hahaha.
Terus, beda lagi sama Dian si arek medok asli Jombang
yang hobinya nyanyi-nyanyi. Dimana-mana nyanyi. Parahnya lagi, lagu yang sering
dia nyanyiin ga jelas ujung pangkalnya. Dia bisa nyanyi lagu pada lirik dan
syair yang sama dari dia membuka mata sampe mau tidur saking ga jelasnya. Dia
juga yang paling penakut dan paling gampang panik diantara kami, dan itu yang
membuat Serly dan Icha, sering menjadikannya “korban” kejahilan, dan aku juga
pastinya. Tapi dua orang ini yang paling rajin dan betah mendengarkan ceramah
dari para dosen. Catatannya pun bisa berbuku-buku penuh dengan wejangan dari
para dosen tanpa tertinggal satu atapun. Berbeda dengan aku dan Icha yang buku
catatan penuh dengan coretan-coretan ga penting.
Yaaah, kami yang berbeda, dengan segala kehebohan dan
keanehan kami. Aku dan mereka saling melengkapi. Saling mengerti meski
terkadang ada satu atau beberapa hal yang membuat kami “jauh”. Tapi, aku dan
mereka dapat kembali. Bahkan, mungkin sang
mentari yang terkadang mengintip malu dari langit, kelakuan kami yang
bergerombol dengan berisik, dengan candaan yang sulit dipahami oleh orang-orang
“normal” (letak topik pembicaraannya) lain, tak dapat mengerti jalinan hubungan
yang kami miliki. Entah kawan, entah sahabat atau saudara. Entahlah, ku biarkan
seperti ini saja. Toh suatu saat, waktu akan memperlihatkan pada kami arti
segalanya. Dan bagiku, kehangatan seperti ini yang selalu dapat mencairkan beku
dan dinginnya hari.
Moment to remember,,
Ingatlah hari ini :D
Moment to remember,,
Ingatlah hari ini :D
Nb: Inget foto ini. Kuliah "galau" di Sabtu pagi dan ga ada yang sempat memikirkan mandi. Gila hhahahaha :D
